Transformasi Pengamen Jalanan yang Meresahkan

Indonesia saat ini tengah berupaya maju dalam berbagai bidang. Didorong pula oleh MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) yang sudah diresmi dimulai awal tahun 2016 ini yang akan menjadi persaingan yang benar-benar dahsyat bagi indonesia. Klo yang belum tau MEA itu apa, itu sejenis makanan yang digoreng dadakan. Gurih-gurih nyoy, wak waw... Haha...

Bukan kok, MEA itu pasar bebas antar negara-negara di kawasan asia tenggara. Ya, bebas dan menjadi satu kawasan ekonomi.

Ngomongin pasar bebas dan perkembangan dalam berbagai bidang. Gue kemaren ini baru aja melihat fenomena yang menurut gue amazing dan belum pernah terjadi selama hidup gue. Agak lebay si emang, tapi kenyataannya kayak gitu sih... hehe

Begini, saat gue sedang tiduran depan tv sambil asyik menikmati kipas angin (Surga level satu itu saat lo lagi kepanasan dan ada kipas angin disamping, surga level pertama itu bro! haha..).

Gue dikejutkan dengan suara aneh persis kayak suara orang kentut tapi dalam air, "blub... blub... blub..." Udah gitu suaranya fals lagi. Bisa bayangin kan lo semua, gimana absurdnya suara itu.

Tanpa komando, gue langsung beranjak dari tempat tidur dan melihat suara aneh apa yang terjadi di luar. Dengan terkejut gue melihat ada 3 orang cowok mirip boyband yang sedang maen alat musik. Bedanya ini boyband kena kutuk. Usut punya usut mereka kena kutuk karena sering ngejek pedagang tahu bulat yang di goreng dadakan itu. Waspadalah bagi siapa saja yang sering mencemooh pedagang tahu bulat, wak waw... :D

Uhukkk... ketiga orang itu berpenampilan kusut. Dilihat dari tekstur mukanya, mereka kebanyakan ngisep jamban janda kembang. Asli kusut banget.

Sambil terus memainkan alat musik. Gue pun melihat orang pertama membawa gitar yang sudah kusam, orang kedua pake aqua botol yang diisi pasir dan yang ketiga pake tangan sambil di tepuk-tepuk yang gak jelas dengan nada. Ya mereka lagi ngamen. Bedanya ini ngamen di tengah perumahan penduduk. Gila kan, perkembangan yang amazing! *shok gue...

Klo biasanya yang gue tau ngamen itu di bus atau di tempat-tempat nongkrong. Mungkin ini efek MEA yang tadi gue udah jelaskan yang buat mereka harus bisa bertahan hidup di kerasnya pasar bebas. Pengamen jalanan yang telah bertransformasi menjadi pengamen rumahan. WOW!

Tapi, pengamen rumahan ini menjadi keresahan yang bener-bener nyata bagi gue dan masyarakat lainnya. Masalahnya pengamen tadi termasuk ngamen yang memaksa dan terkesan perampokan secara tidak langsung. Loh kok bisa!?

Begini nih kenapa gue bisa bilang gitu. pengamen rumahan tadi mampir kesemua rumah. Mereka akan terus bernyanyi dan bermain musik sampe dapet receh dari empunya rumah. Klo belum dapet receh, suara mereka yang mirip kentut dalam airpun akan terus berkumandang. Gue liat banyak yang lebih memberikan seribu dua ribu daripada harus dengerin suara yang absurd abis. Gila! Klo semua rumah ngasih mereka gitu, bisa cepet naek haji tuh pengamen.

Pas pengamen tadi mampir ke rumah gue. Maaf ralat, maksudnya ke rumah paman gue.


Pengamen tadi langsung mengumandangkan suara yang mirip kentut dalam air. Gue akan bertahan dan gak ngasih walaupun cuma seribu dua ribu juga. Bukan gue pelit atau gak punya rupiah (iya juga si klo gak punya rupiah), ini klo dibiarin akan semakin banyak pengamen yang bertransformasi menjadi pengamen rumahan dan menimbulkan keresahan masyarakat. Semakin banyak perampokan walaupun tidak secara langsung, ini berbahaya!

Maka dari itu, gue lebih memilih untuk bertahan walaupun bikin otak gue kececer sampe meleleh keluar dari telinga, hidung, mulut. *Agak lebay si, tapi emang absurd banget suaranya.

Gue pengen menang lawan mereka, karena baru 2 hari yang lalu. gue dengan mudah ngasih mereka. Ini udah kedua kalinya secara beruntun mereka ke tempat gue. Gue juga mau tau seberapa lama mereka bisa nyanyi di depan rumah paman gue.

Namun, beberapa menit kemudian. Bibi gue keluar dan memberikan uang.

"Udah, cepet pergi sana!" Suara bibi gue bernada kesel.

Tanpa basa basi dan bilang terimakasih mereka pindah ke tetangga gue yang lain.

Padahal gue mau tau seberapa hebat mereka bisa bertahan. Tapi ternyata bibi gue gak tahan akan siksaan ini. Mungkin ini neraka level satu kali ya, dengerin suara pengamen mirip suara kentut dalam air, plus fals lagi suaranya. Haha...

Telinga gue akhirnya bersuka cita karena suara pengamen tadi pelan tapi pasti mulai menghilang. Semoga hari ini adalah hari terakhir pengamen tadi datang kesini, dan gak akan kembali lagi. Aamiin... :)))

Sumber gambar: Klik disini!

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel