PHP (Lagi)


Awal bulan februari ini gue mengambil keputusan sulit. Dengan menimbang, memperhatikan, dan akhirnya memutuskan untuk membeli nomor HP. Gue ambil keputusan ini dengan alesan karena terlalu sering di hubungi nomor baru yang gak jelas di nomor lama gue.

Efeknya gue pun menjadi lelaki yang rentan sekali terkena wabah baper. Gue bukan tanpa alesan menjadi lelaki baperan. Jujur, sampe saat ini gue masih belum dikaruniai anak. Yaiyalah! Nikah aja belum... haha
Maksudnya itu gue masih menjadi pengacara alias pengangguran banyak acara yang sedang berjuang mencari pekerjaan. Sebagaimana pengangguran pada umumnya gue pun ikut mengirimkan surat lamaran ke berbagai perusahaan dengan harapan tentunya bisa di terima dong.

Jelas, setelah kita (gue) memberikan surat lamaran. Pasti dari pihak perusahaan akan berkata. “Nanti akan kami hubungi ya mas” atau “Nanti kami tindak lanjuti mas via telpon ya mas, ditunggu aja?”
Dari ucapan pihak perusahaan membuat gue memiliki harapan yang tinggi agar bisa diterima di perusahaan tersebut. Bukan begitu?!

Nah disinilah mulai timbul harapan-harapan dari dalam diri gue. Setiap ada yang nelpon dengan nomor baru. Gue langsung mikir ini adalah nomor perusahaan yang gue tuju, akan tetapi harapan itu musnah seketika karena yang menghubungi gue hanya keluarga, temen dan yang lebih nyakitin orang iseng. DAMN! Untuk orang yang terakhir.

Masalahnya nomor gue udah tersebar luas kemana-mana. Apalagi saat gue jualan online, sudah bisa dipastikan nomor gue tersebar di seluruh grup. Pada waktu itu si jelas gue senang, karena yang hubungi gue pasti mau berbaik hati memberikan rizkinya ke gue. Gue senang dan hatipun riang. Namun sekarang beda ceritanya.

Oleh karena itu, gue dengan mantap mengganti nomor HP untuk gue taro di setiap lamaran kerja. Namun nomor lama yang terdeteksi jenis cakra indosat tetep gue gunakan untuk komunikasi dengan temen-temen dan tentunya kenangan yang sudah terjalin sekitar 4 tahun terlalu sulit untuk dilupakan. Misal klo gue punya anak mungkin ini masa imut-imutnya jika berumur 4 tahun. Maka dari itu gue tetep pertahanin, gue masih pengen liat imutnya nomor HP gue yang lama. Walaupun warnanya sudah mulai pudar. Namun cinta gue tidak akan pernah pudar, sampai kapanpun. *Aseekkk

Setelah pertimbangan yang mantap. Gue akhirnya memutuskan untuk membeli nomor baru yang yang berjenis cakra telkomsel agar tingkat baper gue menurun. Gue juga hanya memberitahu Ayah, Ibu dan kekasih hati. *Maaf keceplosan ya mblo! haha

Hampir sebulan menjalin hubungan dengan nomor baru ini. Awal berhubungan gue agak canggung, Namun lambat laun gue mulai nyaman walaupun harus harus bekerja keras memberi makan 2 nomor dan 2 HP sekaligus. Tapi namanya udah nyaman, walaupun hubungan di tentang banyak pihak tetep aja bisa berjalan dan pada akhirnya bahagia. *Eh ini mah kayak alur percintaan FTV.. haha

Walaupun demikian, hubungan yang baru seumur jagung. Em lebih tepatnya seumur bayi satu bulan. Klo seumur jagung itu kira-kira 3 bulan baru bisa di panen. Iya gak?!
Ya, walaupun baru seumur bayi satu bulan. Masalah pun muncul dan meningkatkan kebapaeran.

Ceritanya yang gue inget 2 atau 3 hari yang lalu. Saat gue enjoy tiduran di sofa depan. Tiba-tiba HP gue bergetar di paha gue. Gue hanya menikmati sensasi getaran HP yang ada di saku celana gue. Oh nikmatnya.
Setelah menikmati sensasi getaran yang nikmat, gue langsung tersadar bahwa itu cuma getaran HP. Bukan getaran... Ah sudahlah ya.. hehe

Dengan sigap dan cekatan gue langsung bergegas mengambil HP di saku celana. Tangan gue pun masuk dengan lembut mengambil HP. Gue pun melihat di layar ternyata nomor baru yang muncul di HP Telkomsel. Gue mulai berharap ini nomor perusahaan yang gue tuju. Seraya berdoa dalam hati dan di dukung jantung yang berdetak lebih kencang dari biasanya, gue mencoba mengangkat.

“Assalamualaikum kak?” Ucap penelpon tanpa nama.
“Waalaikumsalam, ini dengan siapa ya?” Jawab gue dengan hati yang hancur karena gak mungkin pihak perusahaan manggil gue kakak. Mustahil.!
“Ini Husnah. Kakak dirumah gak. Husnah mau maen kesana?” Tanya penelpon tanpa yang ternyata sepupu gue.
“Iya di rumah. Yaudah kesini aja.” Jawab gue denga muka tertunduk lesu.
“Iya kak.” Jawabnya langsung menutup telpon.
“Tut... tut... tut...”

Gue mulai merenung, padahal niat membeli nomor telkomsel ini supaya gak di ganggu gugat oleh siapapun. Biar gue gak dikecewakan lagi karena ekspektasi yang tinggi berharap di hubungi pihak perusahaan dan ternyata bukan. Sialnya lagi, kejadian ini udah terjadi beberapa kali. Huft!

Memang benar, “PHP terjadi jika ada seseorang yang berharap lebih”. SALAM SUPER!


[Baca juga: Telpon PHP]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel