Mabuk Kelapa Muda


Selamat pagi pembaca yang budiman. Pagi ini ditemani secanggik teh manis semoga mampu membangkitkan gairah menulis. Semoga!

“Gak kerasa banget ya udah masuk bulan maret, kayaknya baru aja kemaren tahun baruan”. Kata-kata yang sering gue liat klo awal bulan di berbagai sosial media.
Klo gue liat ada yang nulis atau bilang gitu. Gue langsung reflesk tarik kupingnya terus gue bilang “BULSHIT..!!!”. Ya menurut gue sangat-sangat tidak masuk akal klo bilang gak kerasa. Emang lo cuma hibernasi aja selama ini sampe gak kerasa.

Ahh sudah lah... Tingkalkan orang yang hibernasi itu...
Cerita gue kali ini terkait dengan cuaca yang cukup ekstrim yang terjadi beberapa hari belakang ini. Cuaca yang begitu ekstrim memperlihatkan eksistensi dari empunya kehidupan ini. Kadang gue takut bukan hanya hujan yang runtuh ke bumi melainkan langit. Sungguh mengerikan!

2 hari yang lalu saat menjelang malam, terjadi hujan badai yang sangat lebat. Kebetulan keluarga gue komplit sedang ada di rumah.
Terlihat Ayah dan Ibu gue sedikit panik. Gue merasakan kepanikan beliau, ini terlihat dari cakra yang gue rasakan, sedangkan adik-adik gue tetep enjoy tiduran di kamar dengan selimut tebal bermotif binatang yang terlihat absurd. Gue pun mencoba menanyakan kepanikan itu dengan sedikit berbasa-basi.

“Yah.. Hujannya deres banget?” Ucap gue dengan penuh senyum.
“Iya, kayaknya kemaren-kemaren gak sederes ini. Ayah cuma takut pohon kelapa di samping rumah kita ini nih.” Jawab Ayah dengan jelas mengenai kepanikan beliau tanpa gue tanya dulu.
“Iya yah, klo hujan gini pohon-pohon udah pada mau roboh semua. Bikin ngeri...” Jawab gue.
“Ki... ambil ember di kamar mandi. Tolong taro di ruang tamu.” Seru ibu gue yang memutuskan pembicaraan dengan Ayah.
“Iya bu.” Jawab gue berjalan menuju kamar mandi.

Gue pun bergegas menuju kamar mandi. Tanpa komando, gue langsung menuju ruang tamu. Bukan untuk melihat tamu tak di undang yang datang di tengah badai, bukan kok.
Gue pun melihat bocor dari atap rumah. Padahal klo dilihat-lihat tidaklah bolong. Ya mungkin ini salah satu sifat air yang mampu meresap di berbagai celah. Pelajar kelas 1 SMP, 9 tahun yang lalu. Hayo... Apa lagi sifat-sifat air?? *Jadi berasa tua gini... hehe...

[Baca juga: Kenangan itu...]

Dengan cermat gue langsung menaruh ember tepat di tetesan hujan yang semakin deres dengan disertai sahabat setia, sang petir!.

Setelah itu gue langsung masuk kamar, menghangatkan badan dengan selimut yang cukup tebal. Karena suasana yang sangat mendukung, gue akhirnya tertidur dengan pulasnya.

Keesokan harinya yang cukup cerah, gue melihat tanda kebenaran bahwa semalam memang hujan begitu lebat sangat terlihat. Pekarangan rumah terlihat masih banyak genangan air. Terlihat juga cacing-cacing sedang asyik berenang-renang dalam genangan air. Selain itu musik ala katakpun terdengar begitu merdu. Tau kan nyanyian katak dikala bermain air setelah hujan? Gue gak paham si mereka bicara apa, yang gue yakin pasti mereka lagi bersyukur dengan datangnya hujan semalam.

Pagi ini seperti biasa gue hanya berdua di rumah. Ayah sudah berangkat kerja dan adik-adik udah pada berangkat sekolah. Saat gue sedang duduk di sofa sambil menyelam di dunia maya yang fana, gue dikejutkan dengan suara bising di belakang rumah. Dengan bergegas gue beranjak dari sofa menuju sumber suara.

Gue langsung bertanya ke ibu gue yang sedang di dapur.

“Suara apa tadi bu?” Tanya gue bingung,
“Itu suara mau nebang pohon kelapa di belakang rumah. Klo gak di tebang, Ibu was-was mulu klo hujan” Jawab Ibu dengan tegas.
“Oh... Iya bu. Takut hujan kayak semalam ya...” Ucap gue langsung keluar.

Gue pun keluar dan duduk manis untuk mencari tempat yang aman. Cukup banyak yang menonton adegan ini. Dari orang tua hingga anak-anak, layaknya sedang menonton sirkus. Terlihat raut wajah Pak Tukang yang akan menebang pohon kelapa berubah warna. Bukan berubah jadi ijo kayak hulk, tapi berubah menjadi merah menyala dengan otot-otot kepala yang menampakkan kekuatannya. Mungkin klo otot itu bisa bicara, bakalan bilang “Gue ini kuat dan tahan lama lho!”. Eh ini mah iklan Mak Erot yang sering gue liat... hehe...

Beberapa menit kemudian terdengar suara “Prrtakkkkk gebrukkk”. Suara pohon kelapa jatuh ke tanah dengan gemulai nan aduhai. Langsung setelah pohon kelapa jatuh gue mendekat. Patut diingat gue disini bukan mau bantuin motong pohon kelapa ya...? Disini gue cuma mau ambil kelapa muda yang bikin air liur hampir menetes sejak tadi. Tanpa komando gue langsung mengumpulkan kelapa yang berserakan. Jika beruntung dapet kelapa muda yang sudah terbelah dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya gue habiskan air kelapa muda yang terasa lebih segar. Mantep bener pokoknya.

Oh iya, kata temen-temen gue yang cowok, air dan daging kelapa muda ini baik untuk ngisi amunisi cowok lho. Tapi Gue belum maksud masalah ini.*Muka polos... hehe...

Setelah puas dengan air kelapa muda yang seger pake banget. Gue pun dengan nafsu membelah kelapa muda, sangat terbayangkan kenikmatan dari kelembutan kelapa muda. Benar saja, kelapa muda ini seperti ekspektasi awal. Klo kata Soni Wak Wak mah kelapa muda ini gurih-gurih nyoy.. haha

Ibu gue terlihat sedang membelah kelapa muda ini. Gue sebagai anak yang baik dan suka menabung dengan sukarela membantu beliau. Kelapa muda pun di serut dengan sendok lalu di taro di wadah. Gue yakin banget ini mau di buat es kelapa muda. Air liurpun kembali menetes ke lantai.

Beberapa menit kemudian Ibu memanggil gue.

“Ki... Esnya udah jadi nih. Mau gak?” Tanya ibu gue agak keras, karena gue lagi ngecek HP di kamar.
“Iya bu.” Ucap gue dengan berlari layaknya atlet menuju sumber suara.

Jujur, gue udah kenyang. Tapi hanya orang bodoh yang menolak kelezatan ini. Gak mau di cap bodoh, gue langsung mengambil segelas es kelapa muda.

“Anjirrrr.... Enak banget!!!” Ucap gue dalam hati.

Gak cuma satu gelas, dua gelas, gue bergelas-gelas menghabiskannya. Hanya suara sendawa yang keluar dari mulut ini. Suara sendawa yang kekenyangan kelapa muda ini malah mirip suara kentut ya. Ah sudah lah, gak usah dipikirin yang penting lezat.


Beberapa menit kemudian. Tiba-tiba perut gue kayak orang hamil 5 bulan. Gue pun langsung tergeletak di lantai kayak orang mabuk. Bedanya gue ini mabuk kelapa muda!

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel