Kenangan Itu...


Setiap manusia yang hidup pasti memiliki sebuah kenangan. Baik itu yang membuat bibir tersenyum indah ataupun sebaliknya. Kali ini gue mau cerita kenangan pahit nan memalukan yang selalu gue inget sampe detik ini. Gue inget kejadian itu karena kemaren tanpa sengaja gue denger adek gue yang masih SMA yang akan menghadapi ulangan. Gue sebagai kakak yang baik tentunya memberikan support dong. Walaupun sebenernya dalam hati ada kenanganpahit yang pernah gue alami saat ulangan.

* * *
Ceritanya saat itu gue masih kelas X SMA, kira-kira kisaran tahun 2009. Klo kalian tahun 2009 masih kelas X, kita seumuran gays! *Tosss Haha..

Gue masih inget waktu itu ulangan ekonomi. Semua berjalan normal saat pak guru datang masuk kelas untuk memberikan soal ulangan. Guru pengawas kami ini bernama Pak Budi yang notabene adalah guru ekonomi yang cukup terkenal ramah namun memiliki kedisiplinan super tinggi.

“Cetak cetok cetak cetok..!! Selamat pagi anak-anak..” suara sepatu pantopel Pak Budi terdengar sangat keras di lantai kelas yang seakan siap menendang kami.
“Pagi pak..!!” Jawab kami kompak.

Seperti guru pada umunya Pak Budi juga sebelum ulangan di mulai selalu menginstruksikan agar tidak menyontek. Dengan sangat tegas beliau berkata “Jika ada yang menyontek, bapak tidak akan segan-segan bawa ke ruang guru. Kalian mengerti anak-anak??” seru Pak Budi dengan lantang dan tegas. “Mengerti pak!!” Jawab kami serentak.

“Mana ketuanya?” Ucap Pak Budi.
“Putri pak..!!” Seru kami berbarengan.
“Apa gak ada cowoknya ya kelas ini..!! Yaudah sini kamu bantu bapak sebar soal” seru Pak Budi.
“Baik pak...” Ucap Putri sambil berjalan menuju meja Pak Budi.

Jangan ada yang mikir klo kelas gue ini beneran gak ada cowoknya ya? Lupa cowok kelas gue jumlahnya berapa. Tapi ada 10an lah kira-kira. Namun sayangnya 10 cowok ini bermental tempe semua (termasuk gue). Akhirnya pada saat pemilihan ketua kelas, Putri pun menang mutlak.

Beberapa menit kemudian soal sudah tersebar semuanya.
“Waktunya cuma satu setengah jam dari sekarang ya?” Ucap Pak budi.
“Iya Pak..” Seru kami berbarengan.

Yaudah gue langsung isi nama, kelas, no absen, hobi, cita-cita. *eh ini ulangan apa buat riwayat hidup ya? haha
Gue pun khusuk baca soal dari nomor paling akhir, ini kebiasaan yang sudah mendarah daging deh kayaknya. Entah mitos atau fakta klo gue baca dari akhir itu kayak lebih mudah aja ngerjain soalnya.

Akhirnya gue sampe soal nomor satu juga. Gue pun melirik di kertas jawaban gue. Ettt dah, banyak yang belum keisi lagi. Sebagaimana siswa pada umunya gue pun panik karena waktu udah mulai mepet karena tinggal beberapa menit lagi.
Gue melihat sekitar kelas, dan rata-rata bekerja sama alias nyonteng berjaamah. Jujur gue termasuk jarang nyontek pada masa itu. Bukan gak mau nyontek, sebenernya mau tapi jantung ini serasa mau copot klo nyontek. Gak tau penyakit apa yang ada dalam diri ini. Kata temen-temen si, gue ini nyonteknya belum standar SNI... haha...

Akan tetapi karena tergiur nilai baik dan suasana kelas pun rata-rata mencontek, akhirnya gue beranikan nyontek juga. Gue pun langsung gerak-gerakin kursi depan gue yang dari tadi asyik nyontek temen depannya lagi.

“Fiq.. Fiq... liat dong jawabanya, gue masih banyak yang kosong nih..” Ucap gue mengiba.
“Hmm, yaudah nih kita isi bareng-bareng” Seru Fiqi yang langsung menggerakkan badannya agar gue bisa liat juga.

Beberapa menit kemudian...
“Gue udah nih, gue kasih ke lo aja ya contekannya. Seru Fiqi sambil melempar secarik kertas contekan.

Gue dengan lihai menangkap secarik kertas yang sudah di remas-remas hingga berbentuk bola. Namun itu lah awal dari semuanya. Fiqi melempar kertas tanpa melihat keberadaan Pak Budi.

Gue si gak tau klo Pak Budi merhatiin gue. Ya karena gue emang jarang nyontek si, jadi gue gak tau harus kayak mana merhatiinnya. Mungkin karena gerak gerik gue terlalu mudah di curigai. Beda dengan temen-temen yang memang udah standar SNI. Sampe tiba-tiba Pak Budi berjalan agak cepat dan dengan pasrah gue tertangkap basah nyontek.

“Itu apaan? Kamu nyontek ya?” Dengan muka marah Pak Budi bertanya dan langsung mengambil lembar jawaban gue.
“Nggak pak...” Ucap gue lirih dengan sedikit membela.
“Ini apa klo bukan contekan, cepet kamu ke ruang guru sekarang..!!” Seru Pak Budi dengan muka marah sambil menunjukan secarik kertas dari Fiqi.
“Liat nih anak-anak. Ini contoh yang tidak baik dan jangan di tiru, Gimana mau pinter klo kerjaannya cuma nyontek kayak gini” Ucap Pak Budi yang menjadikan gue contoh dari orang yang selalu nyontek.
“Iya Pak... hahahaha...” Suara teman-teman dengan muka tak perdosa menertawakan gue.
“.........” Gue hanya bisa tertunduk lesu dan menahan malu sambil berjalan keluar menuju ruang guru.

Jujur pada saat itu gue bener-bener sangat malu. Sambil berjalan santai menuju ruang guru. Entah hukuman apa yang akan gue alami nanti.

“Permisi bu, i.. i... ini saya mau ngadep bu” Ucap gue lirih dengan mata berkaca-kaca.
“Kamu kenapa?” Jawab guru piket.
“Saya tadi ketauan nyontek sama Pak Budi bu. Terus saya di suruh ke ruang guru.” Seru gue dengan jujur namun mata masih berkaca-kaca.
“Oh.. nyontekk. Kamu ini gak belajar apa ya?” Tanya guru piket.
“Belajar si bu... Tapi banyak yang lupa.” Jawab gue pasrah.
“Yaudah kamu tunggu disitu aja dulu, Ibu masih ada kerjaan. Nunggu Pak Budi keluar kelas aja ya.” Ucap guru piket dengan bibir tersenyum sambil menunjukkan kursi.
“Iya, makasih bu” Jawab gue sambil berjalan ke kursi.

Saat duduk di kursi, gue pun makin galau dengan apa yang terjadi. Dalam hati berpikir kenapa mengikuti teman-teman untuk menyontek. Penyesalan yang sia-sia karena gue udah tertangkap basah. Gue masih menunggu Pak Budi di kursi dengan hati yang tidak tenang, jantung berdetak begitu kencang dan diliputi rasa malu yang sangat dalam.

Tet tot... Tet tot... Tet tot... Suara bel berbunyi tanda bel pulang.

Pak Budi pun akhirnya datang ke ruangan dan melihat ke arah gue.
“Kamu yang nyotek tadi ya? Sini ikut ke ruangan bapak.”  Seru Pak budi yang terus berjalan.
“Baik pak.” Jawab gue sambil berjalan dengan mata masih berkaca-kaca.

Saat di dalam, layaknya guru yang berubah menjadi hakim. Ya hakim yang siap mengadili gue. TIDAKKK....
Pak budi pun menceramahi gue. Intinya si jangan diulangin lagi perbuatan itu. Gue sangat malu pada saat itu. Karena selain Pak Budi ada banyak guru-guru lain yang ada di ruangan itu. Selain itu juga ada siswa-siswa lain yang juga ada. Mereka seperti nguping pembicaan gue dan Pak Budi. Gue malu, sangat malu.

Setelah pembicaaran itu selesai. Gue di suruh mengerjakan ulangan lagi. Namun dengan waktu yang super singkat, karena memang pada saat itu sudah waktunya pulang. Dengan sekejap gue lahap soal dengan mudah. Entah apa yang terjadi pada diri ini. Mungkin ini yang di sebut “The Power Of Kepepet”. Ya mudah, tapi jawabannya gak karuan. Dalam hati hanya ingin mengakhiri hari ini di sekolah dengan cepat.

Beberapa menit kemudian, gue mampu mengerjakan soal. Namun ada beberapa yang gak gue isi. Bukan takut klo disini nanti nilai gue seratus. Bukan itu kok. Ini karena emang bener-bener gue gak bisa jawab sama sekali. Masa iya gue isi jawaban dengan curhat kejadian ini kan. Gak mungkin lah ya...

Akhirnya gue diizinin pulang. Seperti siswa yang hormat pada guru. Gue pun mencium tangan Pak Budi sebelum pulang. Dalam perjalanan pulang gue bener-bener cepet ingin pulang dan segera mengakhiri hari yang sangat suram ini.


“Tulisan Ini Diikutsertakan Untuk Giveaway di blog eparamata.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel